Pagi itu...

Pagi itu, aku terbangun dalam tidurku. Sedikit demi sedikit aku mencoba menyadarkan diriku. Aku berjalan membuka jendela, berniat untuk menyambut pagi dan matahariku, tapi saat perlahan ku buka jendela, aku mulai merasakan ada yang berbeda. Aku merasa sinar matahari pagi tak seperti biasanya, aku merasa udara pagi tak seperti biasa, semua yang nampak di hadapanku terasa berbeda. Begitu berbeda. Aku mencoba menyadarkan diriku lebih keras, sampai akhirnya aku tahu bahwa saat itulah aku berada dalam titik tertinggi kesadaranku. Keangkuhanku memuncak. Tali keegoanku begitu kencang untuk dapat ku pustuskan. Tahu apa yang ku rasakan saat itu? Pernah merasakan ingin menangis tapi tak bisa? Pernah merasakan ingin berlari tapi tubuh kalian tetap terpaku? Itulah yang aku rasakan. Lemas. Sakit. Sedih. Perih.

Pagi berikutnya, aku tahu apa yang akan aku sambut, pagi yang berbeda, matahari yang berbeda dan udara pagi yang berbeda. Ini tetap berbeda. Perlu waktu beberapa menit untuk membuat diriku kembali sadar bahwa aku sedang melihat hal-hal yang berbeda dalam pagiku. Tapi, untuk pertama kalinya, aku menyambut mereka dengan tersenyum meski aku masih menyimpan perih dalam hati, meski sakit itu masih bertahan. Aku berdiri, melihat sekelilingku, merenung, dan perlahan ada getaran di sana. Getaran itu merintih. Semakin lama, ku rasakan getaran itu semakin merintih, melemahkanku begitu dalam. Sungguh aku tak sanggup menahannya. Sesak rasanya. Untuk beberapa saat, aku pikir nafasku telah terhenti. Ketegaranku hancur. Perlahan air mataku jatuh, air matanya begitu deras untuk bisa ku tahan. Ku biarkan saja setiap tetes itu mengalir deras di pipiku, tak peduli seberapa lelah aku menangis tak peduli seberapa mataku ingin menghentikannya. Ku biarkan mereka mengalir begitu saja.

Pagi selanjutnya, saat aku bangun aku tak perlu terpaku atau menyadarkan diriku lebih keras untuk menyadari apa yang ada di hadapanku. Aku mulai terbiasa. Aku berdiri, berjalan, membuka jendela, melihat sekelilingku. Aku mulai merasakan sesuatu berbeda dalam diriku --bukan apa yang ada di hadapanku. Diriku sungguh terasa berbeda. Ada rasa bahagia di sana, ada suka di sana, ada kesejukan di sana. ada banyak hal yang ku rasakan yang tak dapat ku jelaskan hanya dalam untaian kata. Dan hal yang paling membahagiakan atas diriku ini adalah kesadaranku akan kehadiran mereka dalam pagiku. Mereka mungkin memang berbeda tapi mereka bisa menyambutku lebih dari cara aku menyambut mereka. Aku tersadar bahwa inilah pagiku yang terang dan indah, inilah matahariku, inilah udara pagi yang menyegarkanku. Aku bersyukur. Aku bahagia.

Comments

Popular posts from this blog

Blackstreet - In A Rush

KOKOLOGY part 9