Persahabatan Kerbau dan Sapi
Pada suatu pertenakan, sedang terjadi keramaian karena sang
peternak telah membeli beberapa hewan ternak baru untuk dipelihara. Ada ayam,
itik, sapi, domba, kerbau, dan sebagainya. Agar para hewan ternak baru ini dapat terbiasa dengan
lingkungan baru, sang majikan alias si peternak memberikan sejenis arahan pada
hewan-hewan ternaknya.
“Nah, selamat datang untuk kalian semua, saya harap kalian
bisa…. *blablabla*”, seraya si majikan berbicara wasweswos di depan, ada dua
hewan ternak yang diam-diam mengobrol di belakang yaitu si sapi dan si kerbau.
“Hey.. Ker…bau”, sapa si sapi terbata-bata.
“Oh, hey juga sapi,” jawab si kerbau dengan dingin.
“Kamu… he…wan ter..nak baru ju..ga ya?” Tanya sapi masih
dengan terbata-bata.
“Oh iya, kamu juga hewan ternak baru juga?” balas si kerbau
masih dengan dinginnya.
“I…ya, ka…mu berasal da...ri perternakan ma…na.. dulunya?”
Tanya si kerbau seperti membuka percakapan diantara mereka tapi masih dengan
terbata-batanya.
“Aku dulunya berasal dari perternakan daerah utara, kalau
kamu sapi?” Jawab si kerbau yang mulai menanggapi si sapi dengan ramah.
“Ka...lau a…ku dulu..nya dari per..ternakan dae..rah barat.”
Jawab si sapi.
“Oh…” balas si kerbau seadanya.
“Huft, kok ini si kerbau dingin cuek gitu ya jawabnya, agak
malesin sih ngobrolnya tapi ya gapapa lah daripada diem aja mati gaya,” seru si
sapi dalam hati.
“Hm, eh ka..mu.. dari daerah per…ter..nakan utara? Ke..nal
sa..ma si jalak dong?” Tanya si sapi tetap ingin bercakap-cakap.
Dalam hati si kerbau berkata, “Aduh, ini si sapi, udah
ngomong setengah-setengah dan banyak jedanya, masih aja mau ngobrol, hem-____-“
“Oh iya, aku kenal dia, temenan juga kok,” tapi si kerbau
tetap mencoba ramah.
Walau sapi masih berbicara dengan terbata-bata dan si kerbau
menjawab hanya seadanya, tapi percakapan antara mereka terus berjalan.
“Oke, minta perhatian semuanya…”, kata si majikan membuyarkan
percakapan antara si kerbau dan si sapi.
“Lihat hewan-hewan dipinggir kalian, itu adalah mereka yang
akan menjadi sahabat kalian dalam beberapa tahun ke depan…..”, tambah si
majikan.
“Halah, so tau nih, apaan aku sama si sapi jadi temen aja
belum akrab apalagi jadi sahabat? Mana dia kayak gitu lagi ngomongnya, banyak
jedanya, hemeh-__-“, keluh si kerbau dalam hati.
---
Tapi tak disangka, seiring berjalannya waktu, si sapi dan si
kerbau menjadi sahabat yang begitu dekat, pergi kemana-mana bersama, saling
membantu, melakukan banyak hal bersama-sama, kadang si kerbau sering membantu
si sapi untuk meremas susunya, kadang juga si sapi membantu si kerbau untuk
mencari kutu di kepala si kerbau (loh? Ngaco nih). Ya intinya, banyak suka duka
yang mereka lewati bersama. Bahkan, hampir satu pertenakan itu tahu bahwa si
sapi dan si kerbau bersahabat.
Si sapi yang punya sifat gampang marah, si kerbau yang punya
sifat cuek. Si sapi yang ngerasa selalu bener, si kerbau yang punya sifat keras
kepala. Si sapi yang gampang frontal, si kerbau yang apa-apa ga suka cerita.
Dan, kesamaan sifat yang mereka miliki adalah sama-sama susah buat saling
percaya. Ya, ini serius (“ceritanya”).
Kok ada ya yang bersahabat tapi ga saling percaya? Kok bisa
mereka tetep sahabatan? Bisa, ya jawabannya karena mereka itu bersahabat, tetap
saling mengasihi walau selalu terjadi perselisihan, si kerbau dan si sapi.
Tidak sedikit perselisihan yang mereka hadapi, tidak mudah untuk mereka lewati
perdebatan-perdebatan yang ada. Tapi, si sapi dan si kerbau tetap bersama.
---
Saat si kerbau dan si sapi sedang bersama—seperti biasa, tapi
ada yang tidak biasa di sini, raut wajah sapi terlihat seperti tak menentu…
“Bau…” seru sapi ragu.
“Ya, sap?” jawab kerbau.
“Bau…” suara si sapi terdengar lebih letih.
“Iya sap, ada apa?” Balas si kerbau.
“Bau, kayaknya aku bakal pindah perternakan nih minggu
depan…” suaru si sapi lebih lembut.
“Hah? Serius sap?” Tanya si kerbau tak yakin.
“Iya, emang belum pasti sih, tapi kemungkinan besarnya bakal
pindah,” jawab si sapi ragu.
“Heemmm,” gema si kerbau.
--To be Continued--
Comments
Post a Comment