(Lanjutan) Persahabatan Kerbau dan Sapi


Beberapa hari berlalu dan si Sapi benar-benar akan pindah perternakan..

“Bau, aku jadi pindah, makasih buat semua hari yang udah kita lewatin sama-sama, aku seneng bisa jadi temen kamu. Maaf juga kalau selama ini aku pernah bikin salah sama kamu, bikin kamu kesel atau sejenisnya,” kata si Sapi pada si Kerbau.

“Iya, sama-sama. Maaf juga kalau aku pernah bikin kamu kesel ya, Sap,” balas si Kerbau.

“Iya,” jawab singkat si Sapi.

Beberapa hari sebelum si Sapi pindah, si Kerbau dan si Sapi sengaja untuk main bersama. Tapi karena si Kerbau tak bisa lama-lama jadi mereka hanya bermain sebentar. Si Sapi terlihat kecewa dengan keadaan si Kerbau yang tak bisa meluangkan waktu lebih lama lagi.

"Maaf ya Sap, aku ga bisa lama-lama. Walau nanti kita beda perternakan, aku jamin nanti kita pasti bisa ketemu dan main sama-sama lagi," kata si Kerbau dengan rasa bersalah.


---
'Cerita ini memang berbentuk fabel, tapi cerita ini juga merupakan pengembangan dari fakta yang ada. Maka dari itu, jujur saja saya bingung apa harus mengakhiri cerpennya sampai disini atau meneruskan ceritanya seperti kenyataannya yang terus berlanjut.'
***

Untuk Sapi,
Dari awal kita bertemu kemudian berkenalan, tak pernah ku sangka kalau kita bisa menjadi teman—bahkan sahabat. Tak pernah ku sangka kalau kita bisa seakrab ini, bisa membuat hal kecil menjadi sebuah topik perbincangan yang begitu menarik, bisa menertawakan kekonyolan satu sama lain, bahkan kita bisa bertengkar hanya karena masalah sepele. Dan dari semua yang telah kita lalui bersama, aku menikmati persahabatan ini. Dengan segala baik-buruknya kamu, aku tidak pernah menyesali untuk menjadi sahabatmu.

Kalau memang ada jalan untuk kita bisa terus menjalani persahabatan ini dalam jarak yang jauh dengan waktu komunikasi yang berkurang, tentu aku sangat bersyukur. Tapi jika besok kita benar-benar berpisah, takkan ada yang berubah untukku--kamu tetap sahabatku. Aku harap di tempatmu yang baru, kamu akan menemukan apa yang kamu cari yang tak kamu dapat di sini dan kamu akan menjadi apa yang kamu harapkan di sana.

Walaupun sikapku terlihat dingin, tapi dengan kamu sadari ataupun tidak, aku menyayangimu.

Kamu pernah bilang, “Saat kita menjauh… rasanya aku merasa kurang”, tahukah kamu? Aku juga merasakan hal yang sama.

Comments

Popular posts from this blog

Blackstreet - In A Rush

KOKOLOGY part 9