Ternyata Sakit
"......
Sakit itu...
Ketika kau melihat ia sudah menemukan penggantimu, dan kau merasa bahwa dirimu bukanlah yang terbaik untuknya.
Sakit itu...
Ketika kau selalu khawatir akan berakhirnya hubungan kalian, walaupun di dalam lubuk hati yang terdalam, itu merupakan mimpi terburukmu.
......."
Ingat tulisan di atas? Kamu menulisnya sekitar satu tahun yang lalu, lebih kurang. Kamu selipkan keresahan hatimu itu pada Tumblr-mu. Dulu, ketika aku membacanya, aku menyangkal dalam hati setiap kata yang kamu rangkai dalam postinganmu itu. Karena menurutku, aku tidak pernah membuatmu merasakan sakit yang sedemikian rupa. Aku merasa aku selalu berusaha memberikan yang terbaik yang bisa ku berikan untukmu. Ego memang, tapi aku tidak banyak mengungkapkannya. Karena bagaimanapun, tidak ada manusia yang sempurna. Mungkin ketika itu, aku kurang mengerti kamu, kurang memperhatikan kamu, mungkin juga cara penyampaian kepedulianku yang salah kepadamu--bahkan mungkin sampai sekarang.
Tidak ada yang salah dalam tulisanmu itu. Hanya saja.. Aku sedang merasakan sakit yang kamu tulis di atas. Kamu tahu benar bukan rasanya seperti apa? Ya, itulah yang sedang ku rasakan. Kamu tahu? Rasanya memang sakit. Aku tahu kamu tidak bermaksud begitu kepadaku.
Dengan perasaan itu, aku mencoba memahami, bahwa kadang kita perlu dunia kita sendiri tanpa harus ada satu sama lain. Mungkin kamu butuh duniamu sendiri tanpa kehadiranku di dalamnya. Begitu juga aku. Mungkin.
Apapun yang terjadi nanti, apapun yang membuat kita berselisih, apapun yang akan kita hadapi, aku hanya ingin kita tetap bertahan. Jika selama ini kita bisa membuat semuanya baik-baik saja, kenapa nanti tidak?
Sakit itu...
Ketika kau melihat ia sudah menemukan penggantimu, dan kau merasa bahwa dirimu bukanlah yang terbaik untuknya.
Sakit itu...
Ketika kau selalu khawatir akan berakhirnya hubungan kalian, walaupun di dalam lubuk hati yang terdalam, itu merupakan mimpi terburukmu.
......."
Ingat tulisan di atas? Kamu menulisnya sekitar satu tahun yang lalu, lebih kurang. Kamu selipkan keresahan hatimu itu pada Tumblr-mu. Dulu, ketika aku membacanya, aku menyangkal dalam hati setiap kata yang kamu rangkai dalam postinganmu itu. Karena menurutku, aku tidak pernah membuatmu merasakan sakit yang sedemikian rupa. Aku merasa aku selalu berusaha memberikan yang terbaik yang bisa ku berikan untukmu. Ego memang, tapi aku tidak banyak mengungkapkannya. Karena bagaimanapun, tidak ada manusia yang sempurna. Mungkin ketika itu, aku kurang mengerti kamu, kurang memperhatikan kamu, mungkin juga cara penyampaian kepedulianku yang salah kepadamu--bahkan mungkin sampai sekarang.
Tidak ada yang salah dalam tulisanmu itu. Hanya saja.. Aku sedang merasakan sakit yang kamu tulis di atas. Kamu tahu benar bukan rasanya seperti apa? Ya, itulah yang sedang ku rasakan. Kamu tahu? Rasanya memang sakit. Aku tahu kamu tidak bermaksud begitu kepadaku.
Dengan perasaan itu, aku mencoba memahami, bahwa kadang kita perlu dunia kita sendiri tanpa harus ada satu sama lain. Mungkin kamu butuh duniamu sendiri tanpa kehadiranku di dalamnya. Begitu juga aku. Mungkin.
Apapun yang terjadi nanti, apapun yang membuat kita berselisih, apapun yang akan kita hadapi, aku hanya ingin kita tetap bertahan. Jika selama ini kita bisa membuat semuanya baik-baik saja, kenapa nanti tidak?
Comments
Post a Comment