Dreaming in Reality

Hey hoy, selamat malam!! Malam ini saya mau menceritakan kegalauan anak kelas 3 SMA. You know what I mean, yap hampir semua anak kelas 3 SMA, termasuk saya di dalamnya, pasti lagi galau nanti mau ambil fakultas apa dan di universitas mana. Beruntung untuk kalian yang udah punya kemantapan hati mau ngambil jurusan apa.
Sayangnya, sampai sekarang saya belum punya tujuan pasti mau ke mana. Sempet curhat ke ayah dan kakak, dan jawabannya....
"Ya belajar dulu aja yang tekun, nanti kalau udah ada bayangan mau ke fakultas apa bilang sama ayah. Nanti ayah kasih pandangan lagi." Hem.
"Ilah cita-citanya mau jadi apa? Nah kejar fakultas yang mendukung cita-cita yang Ilah mau." Standar kan nasehat kakak saya-___-
Setelah denger nasehat kakak saya. Tiba-tiba.... Sekilas flasback. Waktu kelas 3 SD, saya pernah punya cita-cita buat jadi pramugari. Seingat saya, itu cita-cita pertama saya. PRA-MU-GA-RI. Kelas 6 SD, cita-cita saya berubah ingin jadi seorang dokter. Beralih ke masa remaja, sekitar pertengahan kelas 3 SMP, saya ingin jadi presiden. Kemudian akhir kelas 2 SMA, saya ingin jadi insinyur. Duh biasa ya lagi masa-masanya labil. Jati diri belum terbentuk seutuhnya.
Setelah flashback pun, saya belum menemukan titik terang. Terus saya mikir, "jadi selama ini saya belajar di sekolah untuk apa? Apa yang sedang saya kejar sampe sejauh ini?". Ternyata jawabannya ini... saya belajar bukan untuk apa, tapi untuk siapa. Saya belajar untuk orangtua saya. Untuk membahagiakan dan membanggakan mereka. Dan cita-cita saya yang terdalam adalah untuk membahagiakan mereka, baik itu dalam bidang pendidikan maupun nilai moral yang saya miliki. Standar ya jawabannya? Tapi begitulah adanya. Tidak peduli saya harus bagaimana dan menjadi siapa saya nanti, yang penting saya bisa membuat orangtua saya tersenyum dan bahagia. Ke mana pun arah tujuan saya, tak masalah asalkan saya tetap memegang tangan orangtua saya. Karna saya sendiri merasakan betapa hebatnya perjuangan mereka untuk membesarkan saya sampe sekarang. Betapa besarnya kasih sayang mereka yang selalu tercurah setiap waktu setiap hari. Sebisa saya, saya akan melakukan yang terbaik untuk kedua orangtua saya. Mungkin bentuk kasih sayang saya pada mereka belum sempurna, tapi akan selalu saya usahakan sempurna. Nah, terjawab sudah cita-cita saya.
Intinya, kita kerjakan saja tugas kita, yaitu ikhtiar dan berdoa. Saya percaya, tidak ada usaha yang sia-sia. Dan untuk hasilnya, semua kemungkinan bisa terjadi. Untuk keputusan, Allah yang melakukan bagian itu. Yakin, apa yang Allah putuskan adalah keputusan yang akan membuat kita belajar lebih baik dan menjadi lebih baik.
*maaf kalau acak-acakan, soalnya posting via mobile*

Comments

Popular posts from this blog

Blackstreet - In A Rush

KOKOLOGY part 9