The Way God Makes Me Mature

Opening dulu..... Sejujurnya, tulisan ini saya buat untuk adik-adik kelas saya di SMA, dengan harapan mereka akan jauh lebih baik daripada saya, bahkan jauh lebih baik dari angkatan saya. Begini nih....

Nama saya Lillah Haulah, saya alumni dari SMAN 13 Bandung. Sekarang saya sedang menempuh pendidikan S1 di Universitas Diponegoro jurusan Teknik Planologi atau Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota. Jujur saya katakan, tidak mudah untuk berada di tempat saya sekarang. Beribu kali saya terjatuh, jutaan kali saya mencoba untuk bangun.

Semasa SMA, bisa dikatakan nilai saya selalu  di atas rata-rata, ranking kelas saya pun tidak pernah keluar dari 3 besar, begitu juga ranking angkatan, saya masuk 3 besar. Bukan saya besar kepala atau sombong, tapi saya hanya berharap kalian bisa mendapatkan pelajaran dari cerita saya ini.

Saat duduk di kelas 3, saya mulai lebih fokus belajar untuk meraih impian saya, diantaranya adalah lulus dengan nilai yang memuaskan dan menjadi mahasiswi di PTN. Untuk menghadapi UN, saya tidak mengikuti bimbel dimanapun, saya hanya belajar sendiri di rumah atau belajar bersama teman-teman di sekolah. Dan alhamdulillah, hasil nilai UN saya memuaskan, bahkan nilai UN saya merupakan nilai UN tertinggi seangkatan. Banyak orang menyangka bahwa saya akan lulus SNMPTN dengan ranking kelas saya yang selalu bagus dan nilai UN saya yang cukup tinggi. Tapi sedikit pun, saya tidak pernah bergantung bahkan berharap bisa lulus SNMPTN ITB, mengingat alumni sekolah saya yang tidak banyak ada di sana. Maka saat pengumuman SNMPTN tiba dan saya tidak diterima di FTI dan FMIPA ITB (jurusan pilihan saya saat SNMPTN), saya tidak berkecil hati karena memang hal itu sudah saya duga.

Dari awal, saya memang menyiapkan diri untuk menghadapi SBMPTN. Saya mengikuti bimbel intensif SBMPTN setelah UN berlangsung. Tapi jauh sebelum itu, saya sudah banyak berlatih soal SBMPTN dan mengikuti TO-TO yang ada untuk mengukur kemampuan saya. Pilihan jurusan yang selalu saya pilih yaitu: 1) FITB-ITB; 2)Teknik Planologi-UGM; 3) Pengembangan Wilah-UGM. Di bimbel, saya mengikuti TO 6 kali, 2 TO pertama nilai saya tidak lulus di pilihan satu, dan sisanya (4 kali TO) saya selalu lulus di pilihan pertama.  Dan itu membuat saya semakin percaya diri dalam menghadapi SBMPTN.

Hari H pun tiba, saat menghadapi SBMPTN saya mengerjakan soal dengan tenang walau menurut saya memang soal SBMPTN tergolong susah. Dan bodohnya saya saat itu adalah, saya banyak menebak soal. Jadi soal yang jawabannya masih ragu saya isi dan mungkin itulah yang membuat saya tidak lulus SBMPTN. Ya, saya tidak lulus SBMPTN (diumumkan tanggal 16 Juli). Begitu hancurnya hati saya ketika membuka pengumuman dan melihat kabar buruk tersebut. Tangis pun tak terbendung, saya memeluk mama dan menangis sejadi-jadinya. Begitu kecewanya saya terhadap diri saya. Sebagai informasi, saya juga mengikuti SIMAK UI (Seleksi Mandiri masuk UI), dan hasilnya pun tak kalah hebat, saya juga tidak lulus UI (diumumkan tanggal 21 Juli). Yang lebih parah, saya juga mengikuti USM STAN, dan hasilnya pun saya dinyatakan tidak lulus (diumumkan tanggal 14 Juli).  Dengan semua kegagalan tersebut, saya mulai introspeksi diri, saya berpikir mungkin saat itu saya terlalu pede mengisi soal sehingga lupa diri atau bahkan saya terlalu mengganggap remeh hal-hal kecil. Banyak sekali hal yang terlintas di pikiran saya saat itu.

Awalnya sulit sekali untuk bangun dan kembali percaya diri. Tapi saya masih perlu berjuang untuk UM UNDIP, yang dilaksanakan tepat tiga hari setelah pengumuman SBMPTN. Saya mengerjakan UM UNDIP jauh lebih berhati-hati dan saya mengisi soal yang memang saya yakin betul jawabannya.

Maka harapan terakhir saya ya di UM UNDIP, yang hasilnya diumumkan tanggal 6 Agustus. Cukup lamaaaaa rasanya untuk menunggu. Bahkan saat penantian itu, saya sudah mulai berpikir “ya sudah cari PTS di Bandung saja, saya tidak akan mengulang tahun depan. PTN atau PTS kan sama saja, yang penting nanti kuliahnya harus bener. Rezeki sudah ada yang mengatur kok”. Saya sudah merasa ikhlas di sana, doa saya pun ketika itu adalah “Ya Allah, sudah sejauh ini perjuangan saya dan sudah sebesar ini pengorbanan waktu dan materi yang sudah orangtua saya keluarkan. Saya tidak lagi berharap banyak, saya yakin apa yang Engkau tuliskan jauh lebih baik dari apa saya inginkan. Semoga saja di mana pun nanti saya menuntut ilmu, saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan mampu memberikan yang terbaik untuk lingkungan saya. Aaamiin.”

Dan saat pengumuman itu tiba (6 Agustus), alhamdulillah saya dinyatakan lulus pada program studi Teknik Planologi, jurusan tersebut saya tulis di pilihan pertama dan yang membuat saya lebih gembira… Jurusan itu adalah jurusan impian saya dari kelas 10. Dan saya mulai menyadari, Allah telah mengabulkan doa saya jauh sebelum saya berharap.

Untuk kalian adik-adikku, saya hanya bisa memberi pesan ini….

“Tidak peduli kalian harus melewati apa atau menggunakan kendaraan apa, yang penting kalian tahu tujuan kalian mau kemana”,  sama artinya “Pikirkan terlebih dahulu kalian mau menjadi apa, mau kerja dimana, mau menghabiskan hidup kalian di bidang apa, mau menekuni jurusan apa… Baru kalian pilih universitasnya.”

Saya menyadari saya masih memiliki banyak kekurangan, saya hanya berharap tulisan saya ini mampu memberikan sentuhan kecil untuk kalian semua dan memberikan manfaat walau hanya sedikit. Kita belajar untuk dewasa hari demi hari. Tak pernah ada yang sempurna di dunia ini, kita hanya belajar untuk mengikis kekurangan.

Comments

Popular posts from this blog

Blackstreet - In A Rush

KOKOLOGY part 9