Hidup di Jakarta: Mudah atau Susah?
Setelah lulus kuliah, sekarang saya bekerja di salah satu instansi pemerintah di Jakarta. Bahkan terhitung sudah cukup lama, kurang lebih berjalan 10 bulan. Dulu sebenarnya sempat berpikir "kayaknya ga cocok nih kerja di Jakarta" dan mencoba mencari kota lain. Tapi kenyataannya berbeda, karena pada hakikatnya manusia hanya bisa merencanakan bukan? Satu dan lain hal akhirnya membuat saya luluh untuk merantau bekerja di Ibukota. Lalu, bagaimana rasanya hidup di Jakarta?
Bicara tentang perasaan akan membuatnya tergambar secara relatif, termasuk hal ini. Tapi menurut saya pribadi, hidup di Jakarta ada susahnya dan juga ada mudahnya. Susahnya, jelas karena urusan macet. Bukan main memang macetnya Jakarta, jarak dari kost ke kantor yang sebenarnya bisa ditempuh dalam 20 menit saja bisa membengkak jadi 90 menit. Nah untuk urusan harga makan dan hidup, menurut saya tidak tergolong membuat susah. Karena kalau masalah makan dan hidup itu pintar-pintar kita saja. Ya kalau mau makan murah, beli makan di warteg saja. Kalau mau dapat kost murah, ya jangan cari fasilitas yang muluk-muluk. Hidup di Jakarta tidak bisa begitu saja dikatakan mahal, padahal hanya kitanya saja yang boros.
Kalau kemudahan hidup di Jakarta, ini kaitannya dengan transportasi publik!!! Kenapa tanda pentungnya banyak? Karena saya benar-benar mengapresiasi integrasi transportasi publik yang ada di Jakarta. Kalian akan sangat terbantu dengan integrasi transportasi publik di Jakarta, entah saat kalian di terminal, stasiun, bahkan bandara (khususnya Bandara Soetta). KRL, transjakarta, dan MRT rasanya sudah cukup memfasilitasi mobilitas penduduknya. Belum lagi dibantu dengan angkot, damri, dan lain-lainnya.
Tunggu, cukup ironi ya melihat poin susah dan mudahnya hidup di Jakarta?
Katanya banyak transportasi publik, tapi kok masih macet?
Atau pertanyaannya dibalik, kok bisa sih masih macet padahal banyak transportasi publik?
Ini pertanyaan yang harusnya jadi PR untuk penduduk Jakarta, bukan lagi PR pemerintah. Tidak bermaksud memihak, tapi rasanya pemerintah sudah cukup berusaha maksimal dengan menciptakan integrasi transportasi publik yang ada. Sekarang pertanyaannya, apakah penduduk Jakarta sudah cukup andil dalam mengurangi kemacetan Jakarta? Apakah penduduknya sudah bersedia menggunakan transportasi publik dan meninggalkan mobil/motor di rumah?
Kamu, sudah andil belum?
Comments
Post a Comment